Kecupmanis – Pentingnya Deteksi Dini Gangguan Pendengaran pada Anak. Gangguan pendengaran pada anak merupakan masalah kesehatan yang sering kali tidak disadari oleh orang tua. Berbeda dengan gangguan penglihatan yang tampak jelas dari luar, gangguan pendengaran cenderung tersembunyi karena tidak memiliki tanda fisik yang terlihat. Bayi dengan gangguan pendengaran mungkin tetap terlihat ceria, aktif, dan responsif terhadap rangsangan visual, sehingga orang tua tidak menyadari adanya masalah. Namun, dampak gangguan pendengaran pada perkembangan komunikasi dan sosial anak sangat signifikan. Anak yang mengalami gangguan pendengaran berisiko mengalami keterlambatan bicara, kesulitan belajar, dan masalah dalam berinteraksi dengan teman sebaya.
Menurut Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Telinga, Hidung, dan Tenggorok – Bedah Kepala dan Leher (PERHATI-KL) Cabang DKI Jakarta, Dr. dr. Tri Juda Airlangga, SpTHT-BKL, Subsp.K(K), deteksi dini gangguan pendengaran sangat penting dilakukan sejak bayi baru lahir. Ia menekankan bahwa orang tua sering tidak menyadari gejala gangguan pendengaran pada anak karena sifatnya yang tidak terlihat. Misalnya, pada usia 1-6 bulan, tangisan bayi dengan gangguan pendengaran tampak sama seperti bayi lainnya, sehingga orang tua menganggapnya normal. Ketika anak mencapai usia satu atau dua tahun dan belum menunjukkan perkembangan bicara seperti anak seusianya, barulah kekhawatiran muncul.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa pada tahun 2030, lebih dari 500 juta orang akan mengalami gangguan pendengaran yang memerlukan rehabilitasi. Selain itu, lebih dari satu miliar anak muda berisiko mengalami gangguan pendengaran akibat paparan suara keras. Mengingat dampaknya yang luas, penting bagi orang tua dan masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan pendengaran anak. Deteksi dini menjadi kunci untuk mencegah dampak negatif yang dapat mempengaruhi kualitas hidup anak di masa depan.
Pentingnya Deteksi Dini Gangguan Pendengaran
Deteksi dini gangguan pendengaran pada anak memiliki peran krusial dalam memastikan perkembangan optimal mereka. Gangguan pendengaran yang tidak terdeteksi dapat menghambat kemampuan bicara, bahasa, dan komunikasi anak. Hal ini dapat berdampak pada prestasi akademis dan interaksi sosial mereka. Semakin dini gangguan terdeteksi, semakin efektif intervensi yang dapat dilakukan.
Dr. Tri Juda Airlangga menjelaskan bahwa deteksi dini sebaiknya dilakukan sebelum bayi berusia satu bulan. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa jika terdapat gangguan, intervensi dapat dilakukan sedini mungkin. Ia juga menekankan pentingnya kesadaran orang tua untuk memperhatikan tanda-tanda awal gangguan pendengaran pada anak, seperti tidak merespons suara keras atau tidak mencari sumber suara. Jika gejala ini terlihat, segera konsultasikan dengan dokter spesialis THT untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Program 1-3-6 dalam Penanganan Gangguan Pendengaran
Untuk memastikan deteksi dan intervensi tepat waktu, diterapkan program 1-3-6 dalam penanganan gangguan pendengaran pada anak. Program ini mengharuskan skrining pendengaran dilakukan sebelum bayi berusia satu bulan. Jika ditemukan gangguan, diagnosis harus ditegakkan sebelum usia tiga bulan. Selanjutnya, intervensi atau penanganan harus dimulai sebelum anak berusia enam bulan.
Pendekatan ini bertujuan untuk memaksimalkan perkembangan pendengaran dan bicara anak, sehingga mereka dapat mencapai potensi penuh dalam tumbuh kembangnya. Dr. Tri Juda menekankan bahwa semakin dini gangguan terdeteksi, semakin efektif intervensi yang dapat dilakukan. Hal ini sejalan dengan rekomendasi WHO yang mendorong deteksi dan intervensi dini untuk mencegah dampak jangka panjang dari gangguan pendengaran.
Faktor Risiko Gangguan Pendengaran pada Anak
Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko gangguan pendengaran pada anak. Infeksi selama kehamilan, seperti rubella, sifilis, herpes, dan cytomegalovirus, dapat mempengaruhi perkembangan organ pendengaran janin. Selain itu, bayi prematur atau yang memerlukan perawatan intensif setelah lahir juga memiliki risiko lebih tinggi. Infeksi telinga tengah berulang, paparan suara keras, dan riwayat keluarga dengan gangguan pendengaran juga merupakan faktor yang perlu diperhatikan.
Oleh karena itu, penting bagi orang tua dan tenaga medis untuk mewaspadai faktor-faktor ini dan melakukan pemantauan serta pemeriksaan rutin. Deteksi dini memungkinkan penanganan yang lebih efektif dan mencegah dampak negatif lebih lanjut.
Dampak Gangguan Pendengaran pada Perkembangan Anak
Gangguan pendengaran yang tidak terdeteksi dan tidak ditangani dapat berdampak signifikan pada berbagai aspek perkembangan anak. Secara khusus, kemampuan bicara dan bahasa anak akan terpengaruh, mengingat pendengaran adalah dasar dari proses belajar berbicara. Anak dengan gangguan pendengaran mungkin mengalami keterlambatan dalam mengucapkan kata-kata pertama, kesulitan memahami instruksi, dan kesulitan dalam berinteraksi dengan teman sebaya.
Selain itu, gangguan pendengaran dapat mempengaruhi prestasi akademis anak. Kesulitan dalam mendengar pelajaran di kelas dapat menyebabkan penurunan pemahaman dan performa belajar. Dampak sosial dan emosional juga tidak kalah penting. Anak mungkin merasa terisolasi, frustasi, atau mengalami penurunan kepercayaan diri akibat kesulitan berkomunikasi.
Metode Skrining dan Diagnostik Gangguan Pendengaran
Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk mendeteksi gangguan pendengaran pada anak, di antaranya adalah Otoacoustic Emissions (OAE) dan Auditory Brainstem Response (ABR). Kedua tes ini tidak menyakitkan dan dapat dilakukan saat bayi tidur. Selain itu, observasi perilaku anak terhadap suara di lingkungan sekitarnya juga penting.
Jika terdapat kecurigaan, segera konsultasikan dengan dokter spesialis THT untuk evaluasi lebih lanjut. Pemeriksaan dini dan rutin sangat dianjurkan, terutama bagi bayi dengan faktor risiko tinggi.
Kesimpulan
Deteksi dini gangguan pendengaran pada anak sangat penting untuk memastikan perkembangan optimal mereka. Gangguan pendengaran yang tidak terdeteksi dapat berdampak negatif pada kemampuan bicara, bahasa, prestasi akademis, serta interaksi sosial anak. Oleh karena itu, orang tua perlu lebih waspada terhadap gejala awal gangguan pendengaran dan segera melakukan pemeriksaan jika terdapat kecurigaan.
Program 1-3-6 menjadi acuan penting dalam penanganan gangguan pendengaran pada anak, yaitu skrining sebelum usia satu bulan, diagnosis sebelum tiga bulan, dan intervensi sebelum enam bulan. Dengan deteksi dan intervensi dini, anak dengan gangguan pendengaran dapat berkembang secara optimal dan mencapai potensi penuh mereka.
Kesadaran masyarakat mengenai pentingnya kesehatan pendengaran perlu terus ditingkatkan. Dukungan dari tenaga medis, pemerintah, dan komunitas sangat diperlukan untuk menciptakan generasi yang sehat dan berkualitas.