Kecupmanis – Ternyata Bukan Hanya Orang Tua, Ini Informasi Penyakit Rematik. Rematik selama ini sering dianggap sebagai penyakit yang hanya menyerang orang lanjut usia. Banyak yang berpikir bahwa nyeri sendi dan kekakuan adalah bagian alami dari proses penuaan. Namun, kenyataannya tidak demikian. Rematik dapat menyerang siapa saja, tanpa memandang usia. Bahkan, orang muda pun berisiko mengalami penyakit ini, terutama jika memiliki riwayat keluarga dengan kondisi serupa.
Rematik bukan sekadar nyeri sendi biasa. Penyakit ini adalah gangguan inflamasi kronis yang dapat mempengaruhi berbagai sistem dalam tubuh, seperti kulit, mata, paru-paru, jantung, dan pembuluh darah. Hal ini terjadi karena rematik adalah penyakit autoimun, di mana sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang jaringan sehat dalam tubuh. Kondisi ini berbeda dengan osteoartritis yang umumnya disebabkan oleh keausan sendi. Rematik justru menyerang lapisan sendi, menyebabkan pembengkakan yang menyakitkan, dan dalam jangka panjang bisa mengakibatkan kerusakan tulang serta deformitas sendi.
Tidak hanya itu, gejala rematik sering kali lebih parah pada cuaca dingin, seperti saat musim hujan yang kini sedang berlangsung di Indonesia. Suhu rendah dapat memperburuk kekakuan dan nyeri sendi, membuat penderita merasa sangat tidak nyaman. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui lebih dalam tentang penyakit ini agar dapat mengenali gejala lebih awal dan mengambil langkah pencegahan yang tepat.
Apa Itu Rematik?
Rematik adalah istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan nyeri pada persendian, otot, dan jaringan ikat di sekitar sendi. Namun, dalam dunia medis, istilah ini sering merujuk pada rheumatoid arthriti (RA), yaitu gangguan autoimun kronis yang mempengaruhi lapisan sendi.
Sebagai penyakit autoimun, rematik terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan sehat, khususnya sinovium, yaitu lapisan tipis yang melapisi sendi. Hal ini menyebabkan peradangan, pembengkakan, dan rasa sakit yang luar biasa. Seiring waktu, peradangan ini dapat merusak tulang dan tulang rawan di dalam sendi, sehingga mengakibatkan deformitas dan hilangnya fungsi sendi.
Berbeda dengan osteoartritis yang disebabkan oleh keausan sendi, rematik adalah hasil dari kesalahan sistem kekebalan tubuh. Gejalanya pun tidak hanya terbatas pada nyeri sendi, tetapi juga dapat mempengaruhi organ lain, seperti paru-paru, jantung, dan pembuluh darah.
Gejala Rematik yang Perlu Diwaspadai
Gejala rematik bervariasi pada setiap orang, tergantung pada tingkat keparahan dan bagian tubuh yang terpengaruh. Gejala dapat muncul secara bertahap atau tiba-tiba, dan sering kali datang dan pergi dalam episode yang disebut flare-up. Berikut adalah beberapa gejala umum rematik:
1. Nyeri dan Pembengkakan Sendi
Sendi terasa lunak, hangat, bengkak, dan terasa sakit saat disentuh. Nyeri ini sering kali simetris, artinya terjadi pada sendi yang sama di kedua sisi tubuh, seperti kedua lutut atau kedua pergelangan tangan.
2. Kekakuan Sendi
Kekakuan sendi biasanya lebih parah di pagi hari atau setelah duduk lama. Kekakuan ini bisa berlangsung selama beberapa jam dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
3. Kelelahan
Penderita rematik sering merasa sangat lelah tanpa sebab yang jelas. Kelelahan ini bisa mempengaruhi kualitas hidup dan produktivitas.
4. Demam Ringan
Peningkatan suhu tubuh yang tidak terlalu tinggi juga bisa menjadi gejala rematik, terutama saat terjadi flare-up.
5. Kehilangan Nafsu Makan
Peradangan yang terjadi dapat memengaruhi sistem pencernaan dan menyebabkan penurunan nafsu makan, yang pada akhirnya bisa mengakibatkan penurunan berat badan.
Selain itu, sekitar 40 persen penderita rematik juga mengalami gejala yang tidak berkaitan langsung dengan persendian, seperti:
– Kulit: Munculnya ruam atau nodul rematoid (benjolan keras di bawah kulit).
– Mata: Kekeringan, peradangan, dan gangguan penglihatan.
– Paru-paru: Jaringan parut yang menyebabkan sesak napas.
– Jantung: Peradangan pada perikardium yang meningkatkan risiko penyakit jantung.
Penyebab dan Faktor Risiko Rematik
Penyebab pasti rematik belum sepenuhnya dipahami, namun para ilmuwan meyakini bahwa kombinasi faktor genetik dan lingkungan berperan penting dalam perkembangan penyakit ini. Berikut adalah beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami rematik:
1. Jenis Kelamin
Wanita memiliki risiko dua hingga tiga kali lebih tinggi terkena rematik dibandingkan pria. Hal ini diduga berkaitan dengan hormon estrogen yang memengaruhi sistem kekebalan tubuh.
2. Usia
Meskipun rematik dapat terjadi pada segala usia, penyakit ini umumnya mulai muncul pada usia paruh baya, antara 30 hingga 60 tahun.
3. Riwayat Keluarga
Jika ada anggota keluarga yang menderita rematik, risiko seseorang untuk terkena penyakit ini menjadi lebih tinggi. Namun, faktor genetik saja tidak cukup; faktor lingkungan juga berperan dalam memicu penyakit.
4. Merokok
Kebiasaan merokok tidak hanya meningkatkan risiko terkena rematik, tetapi juga memperparah gejala dan mempercepat kerusakan sendi.
5. Kelebihan Berat Badan
Orang yang kelebihan berat badan atau obesitas memiliki risiko lebih tinggi terkena rematik. Berat badan berlebih memberikan tekanan tambahan pada sendi, terutama lutut dan pinggul.
Komplikasi Akibat Rematik
Jika tidak ditangani dengan baik, rematik dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius, antara lain:
– Osteoporosis: Penggunaan obat kortikosteroid dalam jangka panjang dapat menyebabkan pengeroposan tulang.
– Nodul Rematoid: Benjolan keras yang terbentuk di bawah kulit pada area yang sering mengalami tekanan.
– Mata dan Mulut Kering: Rematik dapat menyebabkan sindrom Sjögren, yang mengurangi kelembapan di mata dan mulut.
– Masalah Jantung: Peradangan kronis meningkatkan risiko penyakit jantung koroner.
– Penyakit Paru-Paru: Peradangan dapat menyebabkan jaringan parut pada paru-paru, mengakibatkan sesak napas.
– Limfoma: Risiko kanker pada sistem limfatik meningkat pada penderita rematik.
Pencegahan dan Pengelolaan Rematik
Meskipun tidak ada cara pasti untuk mencegah rematik, langkah-langkah berikut dapat membantu mengurangi risiko:
– Menjaga Berat Badan Ideal: Mengurangi tekanan pada sendi.
– Olahraga Teratur: Memperkuat otot dan meningkatkan fleksibilitas sendi.
– Kelola Stres: Stres dapat memicu flare-up rematik.
– Hindari Rokok: Zat kimia dalam rokok memperburuk peradangan sendi.
– Pola Makan Sehat: Konsumsi omega-3 dan vitamin D.
Dengan mengetahui gejala, penyebab, dan cara pencegahannya, kita dapat lebih waspada terhadap penyakit rematik.
Kesimpulan
Penyakit rematik bukan hanya masalah kesehatan yang dialami orang lanjut usia. Faktanya, rematik dapat menyerang siapa saja, termasuk orang muda, terutama mereka yang memiliki riwayat keluarga dengan kondisi serupa. Sebagai penyakit autoimun, rematik terjadi ketika sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang jaringan sehat, terutama pada persendian. Kondisi ini menyebabkan peradangan, nyeri, kekakuan, dan dalam jangka panjang dapat mengakibatkan kerusakan tulang dan deformitas sendi.
Rematik tidak hanya mempengaruhi sendi, tetapi juga bisa berdampak pada berbagai organ tubuh, seperti paru-paru, jantung, mata, dan kulit. Penyakit ini juga dapat memicu komplikasi serius jika tidak ditangani dengan tepat, seperti osteoporosis, penyakit jantung, hingga risiko limfoma.
Meskipun penyebab pasti rematik belum sepenuhnya diketahui, faktor genetik dan lingkungan berperan dalam meningkatkan risiko. Wanita, perokok, orang dengan riwayat keluarga rematik, serta mereka yang memiliki kelebihan berat badan lebih rentan mengalami penyakit ini.
Untuk mencegah dan mengelola rematik, penting untuk menjalani gaya hidup sehat, termasuk menjaga berat badan ideal, berolahraga secara teratur, mengelola stres, menghindari rokok, serta mengonsumsi makanan sehat yang kaya omega-3 dan vitamin D. Jika mengalami gejala seperti nyeri sendi yang berkepanjangan, kekakuan di pagi hari, atau kelelahan ekstrem, segera konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan diagnosis dan pengobatan yang tepat.
Dengan pengetahuan yang tepat dan langkah pencegahan yang benar, rematik dapat dikelola dengan baik sehingga kualitas hidup penderita tetap terjaga.